Sejak 1999, istri saya menderita Fibromyalgia, sebuah penyakit auto-immune yang kronis yang menyerang otot tubuh, ligamen dan tendon; dan mengakibatkan rasa sakit dan letih luar biasa yang terus menerus di seluruh tubuhnya. Beberapa kali dia kehilangan kemampuan menggerakkan tungkai kakinya dan kehilangan indera perasa di kulit. Dunia kedokteran belum menemukan penyebabnya, apalagi pengobatannya. Selama ini, para dokter yang kami konsultasikan, baik dalam maupun luar negeri, hanya memberi pengobatan yang meringankan gejala (symptomatic), mulai dari steroid, NSAID (non-steroid) hingga anti-depressi. Semua obat-obat ini memberi efek-sampingan yang buruk, sampai ke tingkatan istri saya mengalami osteoporosis.
Beberapa tahun kemudian, istri saya juga didiagnosa mengidap Thalassemia Minor. Sejak itu, dia harus menerima transfusi darah setiap tahunnya. Sekilas nilai penting hasil tes darah istri saya sejak 2000 hingga 2007 adalah: Nilai C3 = 39.7 (normal 74 – 148), Nilai C4 = 5.6 (normal 14 – 29), dan Nilai Hb setiap tahun akan turun hingga 7,7 (normal 11.7 – 15.5) sebelum melakukan transfusi darah. C3 dan C4 adalah aktifitas sejenis protein yang terlibat dalam sistim komplemen yang bekerja sama dengan sistim imun tubuh. Karena nilainya rendah, dokter menganjurkan istri saya meminum Cellcept.
Setelah hampir setahun dengan tidak membawa perubahan, istri saya memutuskan untuk berhenti meminumnya. Efek sampingan dari Cellcept adalah rasa mual yang amat sangat. Karena penyakit auto-immune ini, istri saya sering mengalami penyakit-penyakit lainnya. Pengobatan alternatif baik secara fisio-terapi (akupuntur, totok) maupun oral telah kami jalani. Suplemen oral yang telah dicoba adalah minuman Noni, Bovine Colostrum (dari New Zealand), Jamur Shitake, Spirulina, Echinaceae, Cordyceps (dari China) dan beberapa lainnya yang tidak kami ingat. Semua ini tidak membantu merubah keadaan.
Di awal tahun 2008, istri saya memutuskan untuk menghentikan konsumsi obat-obatan yang hanya menghilangkan gejala dan membawa efek sampingan buruk. Pada saat bersamaan seorang teman warganegara asing yang selalu mendampingi kami dalam pengobatan membawa Transfer Factor™. Dia sangat mendorong kami mencobanya. Enam bulan kemudian setelah meminum Transfer Factor™, & setelah selesai melakukan pemeriksaan darah rutin, hasilnya mengejutkan kami dan juga dokter yang merawat istri saya. Inilah nilainya: Nilai C3 = 115 (normal 74 – 148) Nilai C4 = 15 (normal 14 – 29) Hb darah = 13 (normal 11.7 – 15.5), dan tetap bertahan di nilai 13 hingga hari ini setelah melewati kurun waktu hampir dua tahun.
Sejak itu, istri saya tidak lagi menjalani transfusi darah. Istri saya adalah pasien tetap di Rumah Sakit Pluit Jakarta dengan nomor pengenal 059045. Semua yang kami utarakan di atas adalah benar dan bisa diperiksa kepada pihak rumah sakit. Kami juga menyimpan hampir semua sejarah pengobatan.